Spiritual Bypass: Sebuah Fenomena Pengingkaran Emosi
- Dina

- Dec 27, 2021
- 3 min read
Dalam kehidupan apabila kita perhatikan dengan seksama maka kita akan menyadari kegembiraan dan kesedihan datang silih berganti. Ketika cobaan hidup dan kesulitan datang, rasanya hati menjadi lebih mudah mendekatkan diri kepada Tuhan. Kita terkadang menjadi lebih rajin beribadah. Hal ini adalah sesuatu yang wajar, namun kita juga perlu waspada agar ketaatan dalam ibadah tidak kita jadikan sarana kompensasi dan pelarian untuk mengatasi luka-luka perasaan hati.
Seseorang yang dalam hatinya masih menyimpan amarah, kesedihan, kecemasan, ketakutan pada keadaan (keluarga, pasangan, sosial, ekonomi, dll) kemudian mendadak dekat dengan agama atau rajin beribadah belum tentu kedekatannya pada agama dan ketekunannya beribadah akan melenyapkan perasaan luka yang ditanggungnya, bahkan bukan tidak mungkin akan timbul spiritual bypass yang memberi dampak negatif pada kesehatan jiwa.
Apakah yang dimaksud dengan spiritual bypass ? Spiritual bypassing adalah istilah yang diciptakan oleh psikolog John Welwood pada tahun 1984 untuk menggambarkan penggunaan praktek spiritualitas untuk menghindari berurusan dengan perasaan dan trauma yang belum terselesaikan. Konsep psikologi ini dikembangkan dari buku karya Chogyam Trungpa (biksu Budha) yang berjudul “Cutting Through Spiritual Materialism” yang merupakan salah satu upaya menamai distorsi spiritual ini.
Ketika kita mendengar kata emosi, selalu yang terlintas dalam pikiran adalah kemarahan meskipun sesungguhnya emosi itu tidak identik dengan kemarahan. Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia ada dua pengertian emosi. Pertama, emosi adalah luapan perasaan yang berkembang dan surut di waktu singkat. Kedua, emosi adalah keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis yang bersifat subyektif. Dengan kata lain emosi adalah ekspresi perasaan manusia. Emosi terkadang diberi label negatif oleh budaya masyarakat ketika seseorang mengekspresikan emosinya secara berlebihan, misalnya kemarahan yang berlebihan sehingga menimbulkan agresi.
Mengendalikan emosi memang bukan perkara yang mudah bahkan untuk orang dewasa sekalipun. Regulasi emosi yang berkaitan dengan kemampuan menilai, mengatur dan mengekspresikan emosi memainkan peran penting dalam kemunculan ekspresi emosional yang tepat. Ekspresi emosional dapat muncul sebagai komunikasi verbal serta komunikasi nonverbal, seperti ekspresi wajah, gerakan tangan dan gerak tubuh. Dari berbagai penelitian telah banyak dibuktikan bahwa regulasi emosi dipengaruhi oleh banyak hal, termasuk daerah tempat, kecerdasan emosional, budaya dan keluarga.
Menurut Robert Agustus Masters PhD, psikolog penulis buku “Spiritual Bypassing: When Spirituality Disconnects Us From What Really Matters”, menguraikan pengaruh penggunaan praktek spiritual atau dogma agama untuk mengabaikan emosi atau perasaan terluka serta hubungannya dengan kesehatan mental. Spiritual bypass terjadi tanpa disadari serta menyebabkan seseorang menjadi mati rasa emosional, mengalami hambatan perkembangan, dan berbagai jenis kesulitan berelasi antar pribadi (interpersonal relation) menjadi bagian dari upaya penyangkalan dari pemahaman emosi/masalah.
Kecenderungan budaya di masyarakat kita pada umumnya menghindari diekspresikannya emosi negatif seperti kemarahan, kekecewaan, kesedihan, sehingga kemunculan emosi tersebut ditanggapi dengan represi sebagai solusi cepat tanpa rasa sakit ketimbang mengeksplorasi pengalaman dan perasaan yang tidak menyenangkan. Sebagai contoh sederhana ketika seorang sedang menceritakan konflik dan kemarahannya, kemudian ia tiba-tiba berhenti berbicara dan berkata, ”Sudah saya maafkan dan tidak menyalahkannya karena kejadian itu.” Pada saat itulah yang bersangkutan telah berpindah dari perasaan marah yang muncul menjadi sebuah pemikiran konsep spiritual berupa konsep memaafkan dan menghalangi bahkan menghilangkan potensi untuk mengeksplorasi emosi serta meningkatkan kesadaran diri.
Dalam semua tradisi spiritual dan agama memaafkan merupakan ajaran mendasar. Pada prakteknya, tidak mudah untuk benar-benar memaafkan dengan tulus dan bukan sekadar kata-kata di bibir. Seseorang terlebih dahulu harus mampu menerima dan memahami perasaannya sehubungan dengan kejadian atau keadaan atau masalah yang sedang dialaminya sehingga pada akhirnya dapat memaafkan orang lain. Tanpa kemampuan menerima dan memahami emosi serta perasaannya, maka memaafkan orang lain hanyalah menjadi sekadar kata-kata karena sebenarnya dia masih memendam amarah dan bersembunyi di balik kata memaafkan yang diucapkan.
Masters dan Welwood menyimpulkan bahwa spiritual bypass merupakan masalah yang serius dalam perkembangan spiritual maupun psikologi seseorang. Setiap orang pada dasarnya pasti pernah mengalami masalah pribadi maupun interpersonal yang melibatkan emosi dan membutuhkan tidak hanya ajaran spiritual namun juga penanganan dan pemahaman psikologis untuk menghadapinya, Ajaran dan metode spiritual hendaknya digunakan dengan tepat terutama untuk memasuki kehidupan spiritual yang lebih dalam.
Spiritual bypass merupakan fenomena yang masih belum banyak ketahui dan tidak mudah dikenali oleh masyarakat. Namun demikian, bukanlah tidak mungkin fenomena ini banyak terjadi mengingat budaya masyarakat Indonesia yang represif terhadap emosi serta cenderung taat beragama, sehingga tak jarang ritual dan kegiatan keagamaan digunakan sebagai pelarian dari masalah-masalah psikologis.




Comments