top of page

Hidup menjadi Insan Kamil (Manusia Sempurna)

  • Writer: Dina
    Dina
  • Jan 16
  • 2 min read

Kadang ketika kita mendengar pernyataan yang sudah sangat umum, sering kali kita tidak lagi menelaah dan langsung menerima kebenarannya. Kita ambil contoh sebuah kalimat: “Tidak ada manusia yang sempurna.” Mari kita renungkan kembali apakah pernyataan tersebut tidak bersifat paradoks? Kalau memang manusia tidak ada yang sempurna lalu bagaimana dengan relevansinya bila dihubungkan dengan penafsiran ayat-ayat pada Al Quran yang merujuk pada kesempurnaan manusia? (misalnya dalam S. Al-Mu’minun ayat 12-14, S. At-Tin ayat 4)


Kata “sempurna” berasal dari bahasa Latin “perfectus” yang berarti telah dipenuhi atau lengkap. Dalam bahasa Indonesia, kata ini merujuk kepada sesuatu yang tidak memiliki cacat atau kekurangan. Dalam konteks yang lebih luas, sempurna dapat diartikan sebagai kondisi di mana segala sesuatunya berada dalam keadaan terbaik atau ideal.


Dalam khazanah Islam, Nabi Muhammad disebut sebagai insan kamil (manusia sempurna). Sebagian orang beranggapan bahwa insan kamil adalah predikat ekslusif untuk nabi sehingga mustahil diraih oleh manusia. Tentunya cara pandang seperti ini tidak tepat bila kita kembali mengacu pada Al-Quran surat Al-Ahzab: 21, yang menegaskan bahwa Nabi adalah ‘Uswah hasanah”, kata uswah yang mengandung makna model yang harus ditiru dan diteladani bukan untuk dikultuskan.


Insan kamil berasal dari kata bahasa Arab, yaitu dari dua kata Insan dan Kamil. Secara harfiah, insan berarti manusia, dan kamil berarti sempurna. Dengan demikian, insan kamil adalah manusia yang sempurna. Dalam literatur Islam, konsep mengenai kesempurnaan manusia diperkenalkan oleh Ibn Arabi sekitar abad ke-13 M/7 H( 1240 M/638 H). Menurut Ibn Arabi, insan kamil adalah manusia yang sempurna dari segi wujud dan pengetahuannya. Kesempurnaan dari segi wujudnya adalah karena dia merupakan

manifestasi sempurna dari citra Tuhan, yang pada dirinya tercermin nama-nama dan sifat Tuhan secara utuh. Adapun kesempurnaan dari segi pengetahuannya adalah karena dia telah mencapai tingkat kesadaran tertinggi, yakni menyadari kesatuan esensinya dengan Tuhan. 


Apa yang disampaikan ibn arabi bersifat metafisis sedangkan menurut Abd al Karim al-Jilli, insan kamil bukan hanya bersifat metafisis melainkan sebuah perjalanan transformasi jiwa. Manusia yang mengenal dirinya maka ia telah mengenal Tuhannya (Man ‘arofa nafsahu arofa Rabahu) dengan melakukan pemurnian jiwa (taskiyat al-nafs) hingga dapat merealisasi citra Tuhan secara utuh.


Mungkin saat ini  sudah banyak pencapaian yang telah berhasil kita raih dan masih banyak hal-hal yang menjadi impian dan cita-cita. Namun demikian sudahkah kita menjadi insan kamil? Insan kamil adalah tujuan hidup manusia di bumi. Menjadi manusia yang mengenal Tuhan dengan melakukan perjalanan mengenal diri, memurnikan jiwa dari nafsu, ego, kemelekatan, luka batin. Hingga kita mampu menjalani kehidupan selaras dengan tuntunan Tuhan dengan penuh ketulusan.

Comments


bottom of page