top of page

Dilema Disiplin Spiritual: Menumbuhkan atau Mengerdilkan?

  • Writer: Dina
    Dina
  • Feb 15
  • 2 min read

Disiplin spiritual adalah praktik yang dilakukan secara sadar dan terarah untuk membentu kedekatan dengan Yang Ilahi. Yang termasuk disiplin spiritual dalam berbagai tradisi agama contohnya adalah: salat/doa atau meditasi yang teratur, puasa, refeksi diri dan pelayanan. Disiplin spiritual tidak hanya memiliki fungsi spiritual namun juga secara psikologi memiliki dampak seperti meningkatkan disiplin, meregulasi emosi, mengembangkan kesadaran diri (self-awareness) serta meningkatkan resiliensi. Namun demikian disiplin spiritual dapat menimbulkan masalah dan luka batin hingga trauma religious ketika disiplin menjadi sebuah tuntutan yang kaku dan dipaksakan terutama oleh pihak yang memiliki otoritas serta menimbulkan rasa takut.


Tujuan disiplin spiritual sebenarnya adalah kebebasan batin. Namun jika semua praktik ditentukan secara eksternal tanpa pemahaman personal, individu tersebut akan kehilangan relasi autentik dengan dirinya, sehingga mengakibatkan sulitnya mengenali suara hati, juga munculnya ketakutan mengambil keputusan. Bahkan bisa terjadi dalam suatu komunitas, seseorang dapat mengalami ketergantungan pada pemimpin agama yang diposisikan sebagai figur yang memiliki otoritas absolut -- tidak hanya mengenai hal keagamaan namun juga atas kehidupan pribadi pengikutnya (keputusan pernikahan, pendidikan, relasi keluarga, bahkan kesehatan).


Disiplin selayaknya menumbuhkan tanggung jawab dan bukanlah menjadi sumber konfik dalam diri. Disiplin ketat dengan selalu mengekang dan menekan kebutuhan biologis tidak hanya dapat menimbulkan stres yang berkepanjangan namun juga dapat menumbuhkan rasa bersalah (toxic guilt). Ketika nasehat dan disiplin spiritual berubah menjadi keharusan yang disertai ancaman moral atau spiritual, relasi ini mulai menunjukkan karakteristik spiritual abuse, karena terjadi reduksi otonomi individu melalui legitimasi agama.


Praktik disiplin spiritual pada anak tidak dapat disamakan dengan praktik orang dewasa. Pendekatan yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan berisiko mengubah praktik spiritual menjadi pengalaman yang membingungkan atau menakutkan. Pada anak disiplin spiritual yang berorientasi pada kontrol ketat, kaku, dan represif (tidak memberi kesempatan bertanya), dan tidak adanya ruang untuk pemaknaan akan menimbulkan ketakutan. Narasi-narasi yang umum dan sering disampaikan seperti “Nanti Tuhan Marah kalau kamu….” atau “Kamu berdosa jika tidak…..” Jika anak diminta selalu “sabar”, “tidak boleh marah”, tanpa diberi ruang untuk memahami emosinya maka anak akan belajar menekan perasaan dan bukan mengelola emosinya. Dalam jangka panjang hal ini akan mengganggu kemampuan yang bersangkutan untuk megenali emosinya. Anak juga dapat mengalami kebingungan antara cinta dan kepatuhan dan menganggap sikap selalu patuh adalah ekspresi cinta. Padalah pertumbuhan yang sehat membutuhkan pengalaman dicintai bahkan ketika ia melakukan kesalahan dan mengalami kegagalan.


Disiplin spiritual adalah alat untuk membangun dan mengembangkan kedalaman relasi pribadi dengan Sang Ilahi, sebuah praktek yang seharusnya dilakukan dengan rasa aman dan dicintai, dan bukan dipaksakan.

Comments


bottom of page