Sebuah Perjalanan. Yang Belum Usai.
- Evie

- Dec 15, 2020
- 3 min read
Pernah ada yang bertanya, ‘Kamu berguru ke mana?’
Dengan bercanda saya jawab, ‘Banyak. Kamu mau yang mana?’
Sebenarnya itu tidak sepenuhnya bercanda, karena perjalanan saya ternyata membuat saya mengambil intisari kehidupan dari berbagai sumber. Tak hanya dari tradisi agama yang saya yakini, yaitu Islam, tapi juga dari tradisi lain. Dalam pencarian, saya pernah bergabung dengan kelompok ‘rahasia’ Rosicrucian (yang di masa sekarang tentunya sudah tidak rahasia lagi), sebuah kelompok mistisisme Kristen. Pembahasan di dalam ajarannya bukan lagi berada di ranah teologi, melainkan di ranah metafisika. Pernah juga saya menikmati ajaran Teosofi, walaupun umurnya jauh lebih pendek daripada Rosicrucian.
Setelah itu, Tuhan mempertemukan saya dengan Beshara, sebuah sekolah esoteris berbasis di Skotlandia. Darinya, saya belajar tentang sisi esoteris dari Islam, melalui pembahasan tentang ajaran-ajaran Ibn Arabi, seorang sufi besar dari abad ke-12.
Bagaimana dengan sisi eksoterik dari Islam, agama yang saya anut? Saya tidak punya niat meninggalkan ajarannya. Namun, saya membutuhkan jawaban-jawaban atas hal-hal yang tak saya mengerti dan saya pandang tak masuk akal, dan ingin melihat perspektif lain. Akhirnya, ketika suatu hari saya berdiri di depan Ka’bah, saya memberanikan diri bertanya dan mempertanyakan salah satunya, 'Apakah Engkau ada di jalan-jalan lain di luar sana? Please show me.'
Dan Tuhan mengabulkan doa saya.
Saya menemukan benang-benang merah yang bisa menjelaskan pertanyaan-pertanyaan yang saya temui di tradisi saya sendiri melalui pencarian lewat tradisi-tradisi lain. Ternyata, jawaban pun ada di tradisi saya sendiri, tapi kadang terlampau halus dan tersembunyi hingga harus ‘jajan’ dulu untuk mendapat perspektif yang berbeda, supaya misteri bisa terungkap.
Jalannya tdak semudah itu, tentunya.
Ada beberapa yang membingungkan dan membuat galau — saya khawatir apa yang saya pelajari ternyata ‘salah’ dan itu berarti saya telah berdosa. Bagaimana kalau itu tak hanya berdosa, tapi ternyata membuat saya sesat?
Pertanyaan semacam itu terutama memberondong saya ketika saya bersiap untuk mengikuti penyembuhan tradisional di Amazon, Amerika Selatan, menggunakan tanaman Ayahuasca yang bersifat halusigenik. Memanggil berbagai spirit menjadi pengalaman menegangkan yang meresahkan sekaligus menakutkan, sampai tabir-tabir terbuka dan terjadi sebuah penyaksian yang luar biasa. Rasa takut lenyap, digantikan cinta dan kemegahan yang membuat saya terlena dan jatuh cinta semakin dalam padaNya. Namun, di sisi lain, pengalaman itu membuka lebih banyak pertanyaan lagi — terutama dengan dualitas, ‘Bagaimana mengintegrasikan pengalaman ini dengan tradisi saya sendiri, ketika pengalaman itu sedemikian berbeda dengan apa yang saya ketahui selama ini?’ Ketika yang satu mengarah ke utara, dan yang lain mengarah ke selatan, bagaimana mungkin utara dan selatan adalah sama-sama benar?
Sepulangnya dari Amazon, saya dipertemukan dengan jalan yang sekaligus merupakan jawaban di tradisi saya sendiri. Jiwa saya ternyata sangat condong untuk mendalami ajaran sufi, atau tasawwuf, yang oleh sebagian orang dicap 'salah’. Saya tak ambil pusing, karena biasanya yang mengatakan begitu hanyalah mereka yang melihat dari luar. Karena siapapun yang sudah melangkah dan terjun ke dalamnya, dan merasakan kedekatan dan kehadiranNya dalam balutan semesta raya, tak akan bisa lagi menegasikan dan menyangkal keberadaan dan kebenaran jalan itu. Mereka yang sudah menyaksikan, tahu. Dan itu menjadi penutup dari semua kegalauan saya. Dualitas menghilang.
Sejak itu, jejak-Nya dalam setiap tradisi yang dia turunkan, terlihat lebih nyata. Hanya ada satu sumber, dengan berbagai ekspresi dan manifestasi berbeda. Dia membawa saya pada Tauhid.
Walaupun demikian, sufisme hanyalah salah satu jalan. Dan bisa jadi, Tuhan masih ingin menunjukkan jawaban atas doa saya dulu. Saya tentunya tidak menolak -- siapa yang sanggup menolak kehendak Ilahi ketika Dia ingin menunjukkan Dirinya, lagi dan lagi?
Lewat pengertian saya atas ajaran shamanisme yang terkesan sangat bertolak belakang dengan Islam, sebuah pemahaman baru terbuka ketika saya melihat 99 nama indahNya.
Jadi, sementara kaki saya menjejak di bumi Islam lewat sufisme, mata saya tetap menikmati pemandangan sekeliling. Yang sebenarnya begitu indah dalam berbagai keragaman, karena ada Dia di sana. Di mana-mana. Di segalanya.
Semoga semua jiwa bisa melihat dan diperlihatkan keindahanNya, olehNya, di dalamNya, untukNya.
‘Jadi, kamu berguru ke mana?’
Mungkin lebih tepat bila saya berkata, ‘Dia…lewat semua makhlukNya.’




Comments