Inspirasi Fiksi: 'Perpustakaan Tengah Malam' (The Midnight Library) karya Matt Haig
- Evie

- Mar 10, 2022
- 2 min read
Sejak dulu, membaca fiksi adalah salah satu cara saya belajar tentang dan dari kehidupan. Saya menikmati bagaimana-bagaimana kisah-kisah dihadirkan di hadapan saya lewat aksara, membuka ruang imajinasi dan membangkitkan emosi hingga kadang cerita itu merasuki dan menyeret saya menjadi bagian darinya. Banyak sekali momen inspiratif bagi saya ketika membaca fiksi dan ada banyak cerita yang tak hanya menginspirasi, bahkan mentransformasi, dengan cara yang tak terbayangkan sebelumnya. Bagi saya, Sang Kehidupan menghadirkan cerita yang tepat ke hadapan saya, di momen yang juga tepat, supaya saya belajar darinya.
Novel yang menempati posisi teratas di daftar saya adalah novel The Alchemist karya Paulo Coelho, yang saya baca di tahun 2008. Saya sudah pernah menulis tentang novel ini sebelumnya di sini.
Minggu ini saya menemukan lagi satu buku yang layak masuk ke daftar 3 besar, yaitu The Midnight Library (Perpustakaan Tengah Malam) karya Matt Haig.
Kisah ini dibuka dengan keseharian seorang wanita yang merasa gagal dalam hidup dan tenggelam dalam penyesalan hingga akhirnya meminum pil untuk bunuh diri. Tak lama kemudian, cerita memasuki ranah sureal ketika dia terbangun di suatu tempat antara hidup dan mati, di sebuah perpustakan yang berisi buku-buku kehidupannya dalam jumlah tak terbatas, dari kemungkinan dan cabang-cabang setiap keputusan yang pernah dan bisa diambil. Di perpustakaan ini, dia punya kesempatan untuk menjajal kehidupan yang dia inginkan, yang dia sesali tak pernah dia jalani karena keputusan-keputusan yang pernah diambil, juga kehidupan yang bahkan tak pernah ada dalam skenarionya.
Pembaca (=saya) dibawa menyusuri banyak ‘seandainya saja’ dan melihat bagaimana setiap keputusan datang dengan konsekuensi yang bersifat multidimensi, suka dan duka, tawa dan tangis — bukan suka atau duka, bukan tawa atau tangis.
Supaya tidak memberikan spoiler, saya hanya bisa bilang pada akhirnya, saya dibawa pada kesadaran pentingnya momen saat ini, di sini (here and now). Namun tentu, dengan derajat kedalaman yang berbeda dari yang saya percaya dan resapi sebelumnya, karena membaca fiksi dan masuk ke dalamnya ibarat membuka satu atau beberapa pintu realitas di alam bawah sadar -- ia membekas dan mengubah diri.
Setiap detik adalah berharga. Kehidupan dan fakta bahwa kita ada di dalamnya dengan segala tawa dan tangis, sesal dan bahagia, susah dan senang, adalah sebuah hal yang berharga, andai saja kita bisa percaya dan menyadarinya dengan segenap hati yang terbuka pada segala kemungkinan dan penuh rasa syukur.
Jadi, untuk siapapun yang pernah atau sedang mendapati diri merenungi sebuah momen penyesalan, atau bertanya-tanya apa makna kehidupan ini, atau sekadar ingin membuka perspektif dengan membaca karya fiksi yang berkesan, buku ini untuk Anda. Selamat membaca!
NB: Saya membaca edisi terjemahan bahasa Indonesia, dan masih bisa menikmatinya. Namun, pastinya versi bahasa aslinya (Inggris) akan lebih mengalir lagi ketika dibaca.




Comments