Healing & Purification (Pemulihan & Penyucian)
- Evie

- Jan 7, 2021
- 3 min read
Updated: Dec 27, 2021
Hari ini saya tersadar kalau kata ‘healing’ yang biasanya saya terjemahkan bebas menjadi pemulihan, ternyata mempunyai makna di tingkatan berbeda, yaitu ‘purification’ atau penyucian.
Kata penyucian, bagi saya, identik dengan sebuah ritual Islam, yaitu wudhu, membersihkan anggota-anggota tubuh sebelum melakukan canonical prayer atau salat.
Kata itu punya makna lebih dalam ketika suatu hari saya mengikuti kajian tasawwuf dan guru yang mengajar berkata bahwa untuk menjadi seorang pejalan spiritual yang melangkah mendekati Tuhan, seorang manusia harus berada dalam keadaan suci. Dan manusia tidak punya kemampuan untuk menyucikan dirinya dari kotoran jiwanya sendiri — hanya Tuhan yang bisa. Jadi yang kita lakukan adalah meminta supaya Tuhan menyucikan jiwa kita sehingga kita layak berjalan mendekatiNya.
Analoginya adalah sebuah istana raja yang besar, dengan gerbang tertutup. Mereka yang patuh dan melakukan persembahan/penghormatan pada raja di sekeliling istana, mendapat janji sebuah kelayakan tempat (yang dalam bahasa agama dinamakan surga). Pejalan spiritual adalah ibarat mereka yang ingin masuk ke istana untuk bertemu dan bersimpuh langsung di hadapan raja. Pintu istana dibuka hanya bila sang pejalan layak memasuki istana, dalam keadaan bersih batin: berserah, tulus, ikhlas, percaya. Dan hanya sang raja yang bisa mengarahkan si pejalan untuk membuat dirinya layak masuk istana dan menghadap raja. Hanya raja yang bisa membuat para penjaga membuka gerbang untuk sang pejalan.
Saat itu, yang ada di bayangan saya dengan suci adalah semata tidak berbuat dosa dan tidak melakukan apa yang diharamkan oleh aturan agama — mentok-mentoknya di melibas ‘penyakit’ jiwa seperti iri dan sombong. Tapi ternyata, penyucian meliputi hal-hal yang jauh lebih luas, terutama kemelekatan terhadap dunia, yang seringkali diartikan sebagai melepas kepemilikan harta — tidak sepenuhnya tepat, karena ada orang-orang kaya yang tidak melekat pada hartanya, juga kebalikannya, ada orang-orang tak berpunya yang melekat pada sedikit yang mereka punya. Penyucian juga termasuk membersihkan diri dari rasa-rasa seperti kemarahan, kebencian, ketakutan. Dan yang paling sulit dari semua itu adalah kemelekatan pada identitas.
Sebagai anak yang tumbuh di keluarga yang berpendidikan dan cukup mapan secara profesi, saya terbiasa mengidentifikasikan diri saya dengan identitas psikologis - anak dokter, anak dosen. Begitu saya dewasa pun, yang saya sebut ‘pencapaian’ adalah identitas saya, seperti lulusan universitas negeri, mahasiswa terbaik, pegawai perusahaan multinasional, dan penulis. Tanpa semua itu, lantas, saya siapa?
Kemarin, saya sedang bincang-bincang dengan si burung hantu satu lagi (baca: Dina :-D). Kami sedang bercakap tentang bagaimana sebuah penyakit pasti mempunyai akar spiritual - semua penyakit fisik ada hubungannya dengan cara kita berpersepsi dan bertindak dalam kehidupan, dan karena kehidupan adalah sebuah perjalanan, pasti semuanya terkait dengan pelajaran semesta yang diinginkan oleh Tuhan untuk kita pelajari lewat kejadian. Dengan kata lain, bila pelajarannya belum dimengerti, maka penyakit belum bisa sembuh — seperti mengulang kelas saat kuliah. Tiba-tiba salah satu kalimatnya seperti menyengat saya: kesembuhan penyakit fisik tidak terjadi bila proses penyucian-diri belum selesai.
Untuk pertama kalinya, saya melihat proses kesembuhan dengan cara berbeda, sebagai sebuah penyucian. Proses penyembuhan dan pemulihan dari penyakit, yang adalah pelajaran semesta, pada dasarnya adalah sebuah proses menyucikan jiwa. Jadi apa artinya pengertian baru ini?
Bagi saya pribadi, ini berarti ketika saya sakit dan meminta kesembuhan, saya menyadari bahwa Tuhan sedang dalam proses menyucikan jiwa saya sehingga layak kembali melangkah ke arahNya. Itu berarti ketika meminta kesembuhan, saya pun meminta agar saya dibimbing untuk mengetahui pelajaran apa yang sedang Dia ajarkan ke saya. Itu berarti ketika meminta kesembuhan, saya menundukkan kepala dengan penuh kerendahan hati atas ketidakmengertian saya akan hidup, sampai-sampai sebuah penyakit harus menemukan celah dulu untuk berada di tubuh saya sebelum saya tahu ada sesuatu yang salah. Itu berarti, saya akan meminta dengan lebih sungguh-sungguh, untuk tidak membuang-buang waktu dan ditarik ke arahNya untuk berada bersamaNya. Untuk kembali menjadi kosong dan membiarkanNya mengisi kekosongan itu, dengan ilmuNya — bukan dengan ilmu manusia sepanjang yang bisa diketahui oleh pikiran yang terbatas tentangNya. Untuk berserah lebih dalam dan membiarkanNya bekerja atas diri saya sesuai waktuNya.
Jadi, ya, bagi saya, menyadari bahwa healing atau pemulihan tak lain dari proses penyucian, mengubah banyak hal. Semoga ke arah yang lebih bermakna dan penuh cinta kasih.




Comments