Depresi dan Bunuh Diri
- Dina

- Dec 7, 2021
- 2 min read
Updated: Dec 27, 2021
Seiring dengan pandemi yang sudah berlangsung hampir dua tahun, saat ini terjadi peningkatan kasus depresi dan bunuh diri. Kondisi ini sering dialami masyarakat, disebabkan tingkat stres tinggi dan dampak dari tuntutan hidup yang semakin meningkat.
Depresi adalah gangguan disregulasi mood (perasaan) yang mengganggu dengan tanda-tanda umum yang bervariasi mulai yang ringan hingga yang berat. Gejalanya berupa kesedihan mendalam, suasana hati yang kosong, mudah tersinggung, kehilangan minat pada hidup atau rasa apatis. Juga, kelelahan kronis, kesulitan tidur, perubahan napsu makan, kesulitan berpikir atau berkonsentrasi, hingga memiliki keinginan untuk mati atau bunuh diri.
Depresi dapat disembuhkan dan mayoritas penderita depresi tidak berakhir dengan kematian karena bunuh diri, namun demikian depresi berat dapat meningkatkan risiko bunuh diri. Individu yang menderita depresi sering kali merasa tidak beruntung dan dunia seakan memusuhi dan tidak berpihak pada mereka, merasa hidupnya tidak berarti dan atau Tuhan tidak adil. Tidak jarang mereka bertanya-tanya, ”Apakah saya secara klinis depresi atau kurang beriman?”
Manusia sejatinya tidak hanya mencakup fisik, emosional, kognitif namun juga memiliki dimensi eksistensial dan spiritual. Dalam kehidupan yang serba cepat, manusia selalu sibuk dan penuh interaksi sehingga tidak memiliki waktu untuk berinteraksi dengan diri sendiri. Saat ini depresi dan keinginan bunuh diri dilihat sebagai gangguan psikologis atau penyakit yang diakibatkan oleh ketidak seimbangan biokimia tubuh namun sesungguhnya pada dimensi yang lebih dalam depresi dan keinginan bunuh diri adalah keterputusan manusia dari eksistensi dan spiritualitasnya.
Dalam pandangan spiritual seperti sufisme atau shamanisme, yang menjadi akar depresi dan keinginan bunuh diri adalah keterputusan hubungan dengan Sang Ilahi atau Sang Sumber. Depresi dan keinginan bunuh diri timbul karena hati yang terus membawa kesedihan dan kehilangan. Kesedihan dan kehilangan ini dapat berupa: kematian, kehilangan pasangan/persahabatan, kehilangan pekerjaan, juga kehilangan rasa aman, martabat, dan harga diri karena perlakuan buruk atau pelecehan. Depresi sering disertai dengan rasa dan frustrasi pada peristiwa-peristiwa dalam kehidupan, pada orang-orang, bahkan pada Tuhan. Deep healing seperti sufi healing dan shamanic healing tak sekadar upaya untuk menyelesaikan suatu isu/masalah, melainkan juga membantu mengembalikan keterhubungan diri dengan Sang Ilahi dan membangun harapan, sehingga menghilangkan depresi.




Comments