Apakah Narsisme Spiritual Itu?
- Dina

- Feb 2, 2022
- 2 min read
Updated: Feb 16, 2022
Kebanyakan dari kita ketika mendengar kata narsisme maka yang muncul dalam benak kita adalah seseorang yang secara berlebihan mengagumi diri sendiri dan terkadang lebih banyak dihubungkan dengan penampilan fisiknya. Namun adakalanya kita sering melihat seseorang tanpa ia sadari dia begitu membanggakan agamanya atau ibadahnya bahkan mengolok-olok orang lain yang berbeda keyakinan dengan orang tersebut, ini adalah salah satu bentuk narsisme spiritual.
Gerald May, seorang Psikiater dalam bukunya yang berjudul “Will and Spirit” secara sederhana narsisme spiritual didefinisikan sebagai penggunaan praktek spiritual, pengalaman dan wawasan spiritual yang secara tidak sadar meningkatkan kepentingan diri sendiri.
Spiritual narisisme menjadikan pencarian spiritual sebagai sarana meningkatkan pentingnya diri (ego) daripada sebuah perjalanan untuk memperdalam kerendahan hati.
(“Simply stated, spiritual narcissism is the unconscious use of spiritual practice, experience, and insight to increase rather than decrease self-importance. Spiritual narcissism makes the spiritual quest a self-aggrandizing process rather than a journey of deepening humility.”)
Beliau juga menyatakan banwa tidak ada ada agama atau tradisi spiritual apapun yang pengikutnya terbebas dari narsisme spiritual. Hal ini sejalan dengan pernyataan Chogyam Trungpa, pendeta Tibetan Budha dalam bukunya yang berjudul “Cutting Through Spiritual Materialism.” Beliau menyatakan bahwa
Ego dapat mengubah apapun untuk kepentingannya termasuk menggunakan spiritualitas. Berjalan di perjalanan spiritual adalah proses yang sangat halus dan bukan sesuatu yang naif. Terdapat begitu banyak persimpangan yang menyebabkan arah spiritualitas menjadi terdistorsi dan berpusat pada ego, kita bahkan dapat tertipu oleh diri kita sendiri yang berpikir kita sedang melakukan perjalanan spiritual namun sesungguhnya kita sedang memperkuat ego kita dengan menggunakan teknik-teknik spiritualitas.
(“Ego is able to convert anything to its own use, even spirituality. Walking the spiritual path properly is a very subtle process: it is not something to jump into naively. There are numerous sidetracks which lead to a distorted, ego-centered version of spirituality; we can deceive ourselves into thinking we are developing spirituality when instead we are strengthening our egocentricity through spiritual techniques.”)
Agama atau spiritualitas sesungguhnya bertujuan membangun kesadaran kita untuk senantiasa terhubung dengan Diri Sejati, melepaskan diri dari ego sehingga kita dapat hidup selaras dengan tujuan kehidupan kita di bumi. Tidak ada salahnya kita mewaspadai dan melakukan introspeksi diri agar jangan sampai niat perjalanan spiritual kita dimanipulasi oleh ego kita. Berikut berberapa tanda-tanda yang perlu diwaspadai agar kita tidak terjebak dalam spiritual narsisme:
Selalu membicarakan dan membanggakan pencapaiannya dalam praktek spiritual/ritual agama
Menasehati dan memaksakan pola pikir dan praktik spiritualnya kepada orang lain
Merasa diri lebih benar/lebih hebat dalam mempraktekan agama atau spiritualitas
Menolak mengakui kekeliruan atau kesalahan.
Selalu ingin didengar namun tidak mau mendengarkan orang lain
Membicarakan cinta kasih namun tidak pada prakteknya tidak menunjukan welas asih.




Comments